OLEH :
Anugerah Adhi Prasetyo
Tema
Perdagangan Internasional
o Judul : Dampak dari Liberalisasi Perdagangan Pertanian Indonesia-China terhadap Produksi dan Ekspor Pertanian di Indonesia: Suatu Penelitian dengan Pendekatan SImulasi
o Pengarang : Tulus Tambunan (Fakultas Ekonomi Universitas Trisakti)
Tahun
Januari 2010
Latar Belakang
Sebagian besar penduduk miskin di Indonesia tinggal di pedesaan dan sebagian besar bekerja di sektor pertanian, maka apabila kesepakatan ASEAN-China merugikan Indonesia dalam arti produk-produk Indonesia kalah bersaing , maka akan terjadi peningkatan kemiskinan, karenanya itulah jurnal ini dibuat untuk mengetahui dampaknya sehingga kita dapat menantisipasi kemungkinan terburuk.
Masalah dan Tujuan
Masalah
Bagaimana dampak kesepakatan China dengan Indonesia dalam konteks kesepakatan China-AFTA terhadap produksi dan ekspor pertanian Indonesia.
Bagaimana daya saing pertanian Indonesia terhadap pertanian China
Tujuan
Mengkaji apakah kesepakatan ASEAN-China FTA menguntungkan Indonesia, khususnya sektor pertanian.
Metodologi
Data
Indeks revealed comparative advantage (RCA), indeks spesialisasi peragangan (TSI)
Variabel
Indeks revealed comparative advantage (RCA) (Variabel bebas / X)
indeks spesialisasi peragangan (TSI) (Variabel Terikat /Y)
Tahapan Penelitian
Menganalisis daya saing perdagangan Indonesia dengan China untuk komoditas-komoditas yang masuk di dalam EHP.
Menganalisis efek efek dari liberalisasi perdagangan pertanian antara kedua Negara tersebut terhadap produksi dan ekspor pertanian Indonesia.
Model Penelitian
Penelitian ini menggunakan 2 Model penghitungan keseimbangan umum:
1. Model simulasi kebijakan perdagangan pertanian (ATPSM) versi 3.1 (2006).
2. Proyek analisis perdagangan global (GTAP) versi 2005.
Hasil dan Analisis
Menurut Model simulasi ATPSM lebih dari setengah dari 15 komoditas EHP yang masuk dalam analisis, ekspor-ekspor Indonesia menurun. Dalam hal Impor hasil simulasi menunjukan bahwa impor akan naik untuk sebagian besar dari komoditas dengan pisang sebagai komoditi terbesar. Dalam produksi domestic, beberapa diantaranya diperkirakan meningkat sedangkan sisanya menurun.
Menurut Model simulasi GTAP
• Penurunan atau penghapusan tarif impor di Indonesia atau China terhadap komoditi tertentu akan merugikan Indonesia.
• Untuk produksi gula hasil simulasi menunjukan bahwa China akan mengalami hal yang sama seperti yang akan dialami Indonesia dengan penurunan produksi.
• Untuk komoditas terpilih lainnya, kecuali daging, Indonesia akan mengalami produksi yang lebih besar apabila tariff impor untuk komoditas tersebut dihapuskan.
Kesimpulan
Secara keseluruhan , pertanian Indonesia, atau lebih spesifik lagi, petani petani di subsector pertanian yang dipilih untuk penelitian ini tidak akan sepenuhnya mendapatkan keuntungan dari kesepakatan perdagangan regional tersebut. Pertanian di Indonesia saat ini menjadi sektor yang tesisihkan dilihat dari lahan yang sempit, harga input yang tidak stabil, serta harga output yang sering merugikan para petani.
Kamis, 11 November 2010
Rabu, 10 November 2010
Pentingnya Transportasi Pedesaan bagi Perekonomian Indonesia
Revitalisasi peran transportasi sangatlah penting guna memperlancar proses pembangunan infrastruktur desa mengingat perannya sebagai jaring pengaman sosial ekonomi Indonesia. Pembangunan daerah pedesaan dapat dicapai dengan pemberdayaan masyarakat untuk meningkatkan produkitifitas dan keanekaragaman usaha pedesaan. Transportasi merupakan elemen penting dan strategi yang penting untuk mendukung pembangunan daerah, karena transportasi berperan dalam menjamin aliran orang dan barang dari suatu tempat ke tempat dimana bahan mentah terdapat ke pusat produksi dan pusat distribusi daerah, regional, nasional, maupun internasional.
Transportasi pedesaan merupakan sarana untuk meningkatkan kemampuan mobilitas bagi orang untuk mencapai akses pelayanan dan fasilitas yang dibutuhkan. Banyak pula isu isu yang berkembang dari transportasi pedesaan, diantaranya adalah kesetaraan gender dan bagi penyandang cacat (di Nepal). Tujuan dari pembuatan program transportasi pedesaan menurut UU desentralisasi adalah untuk menjamin akses orang ke kebutuhan dasar juga kesempatan sosial dan ekonomi yaitu termasuk meningkatkan keahlian dan produktivitas masyarakat desa.
Pelaksanaan dan pelayanan infrastruktur transportasi pedesaan telah menjadi trend di abad 21, World Bank mengidentifikasikannya dengan istilah “localization” yang didefinisikan sebagai kekuatan pertumbuhan kesatuan sub-nasional sebagai kota dan propinsi sebagai respon terhadap grass-rots oleh manusia dalam arti luas. Faktor penting dalam pelayanan dan transportasi pedesaan adalah oembiayaan dan pengelolaan asset, juga integrasi antar desa merupakan faktor yang sangat penting demi mensukseskan pelayanan dan transportasi pedesaan.
Inisiatif untuk Transportasi pedesaan harus dimiliki oleh masyarakat, para stakeholders, inisiatif dan best practices, capacity building, dan lain sebagainya.
Intisari:
• Transportasi pedesaan mempunyai karakteristik yang unik dan berbeda
• Sasaran transportasi pedesaan adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan transportasi yang ramah lingkungan mudah dijangkau dan mudah didapat
• Keikutsertaan masyarakat, swasta dan pemerintah dalam proses pembangunan transportasi pedesaan.
• Pembangunan desa mempunyai 4 kekuatan pengendali, pasar, insentif, penanaman modal, dan transportasi.
Transportasi pedesaan merupakan sarana untuk meningkatkan kemampuan mobilitas bagi orang untuk mencapai akses pelayanan dan fasilitas yang dibutuhkan. Banyak pula isu isu yang berkembang dari transportasi pedesaan, diantaranya adalah kesetaraan gender dan bagi penyandang cacat (di Nepal). Tujuan dari pembuatan program transportasi pedesaan menurut UU desentralisasi adalah untuk menjamin akses orang ke kebutuhan dasar juga kesempatan sosial dan ekonomi yaitu termasuk meningkatkan keahlian dan produktivitas masyarakat desa.
Pelaksanaan dan pelayanan infrastruktur transportasi pedesaan telah menjadi trend di abad 21, World Bank mengidentifikasikannya dengan istilah “localization” yang didefinisikan sebagai kekuatan pertumbuhan kesatuan sub-nasional sebagai kota dan propinsi sebagai respon terhadap grass-rots oleh manusia dalam arti luas. Faktor penting dalam pelayanan dan transportasi pedesaan adalah oembiayaan dan pengelolaan asset, juga integrasi antar desa merupakan faktor yang sangat penting demi mensukseskan pelayanan dan transportasi pedesaan.
Inisiatif untuk Transportasi pedesaan harus dimiliki oleh masyarakat, para stakeholders, inisiatif dan best practices, capacity building, dan lain sebagainya.
Intisari:
• Transportasi pedesaan mempunyai karakteristik yang unik dan berbeda
• Sasaran transportasi pedesaan adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan transportasi yang ramah lingkungan mudah dijangkau dan mudah didapat
• Keikutsertaan masyarakat, swasta dan pemerintah dalam proses pembangunan transportasi pedesaan.
• Pembangunan desa mempunyai 4 kekuatan pengendali, pasar, insentif, penanaman modal, dan transportasi.
Kamis, 04 November 2010
Pengaruh Bencana Alam terhadap Inflasi
Definisi Bencana & Inflasi
Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor nonalam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis.
Bencana alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam antara lain berupa gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan, dan tanah longsor.
Inflasi adalah suatu keadaan di mana harga barang-barang secara umum mengalami kenaikan dan berlangsung dalam waktu yang lama terus-menerus. Harga barang yang ada mengalami kenaikan nilai dari waktu-waktu sebelumnya dan berlaku di mana-mana dan dalam rentang waktu yang cukup lama
Pengaruh Bencana Alam terhadap Inflasi
Setelah terjadi Bencana Alam disuatu daerah, baik berupa gempa bumi, tsunami, gunung meletus, dan lain-lain, tentunya akan terjadi kerugian yang dialami oleh masyarakat yang tinggal di daerah yang terkena bencana tersebut.
1. Kerugian materi harta benda, rumah , ternak, fasilitas umum.
2. Kerusakan Lingkungan, tumbuhan, kebun, lading pertanian, peternakan
3. Jatuhnya korban jiwa.
Dari kerugian kerugian tersebut dapat kita ketahui pastinya bahwa jumlah kerugian yang dialami oleh masyarakat dan Negara kita sangat besar. Selanjutnya akan kita bahas bagaimana bencana alam dapat mempengaruhi inflasi.
Menurut beberapa sumber, dikatakan bahwa bencana alam tidak mempengaruhi inflasi, menurut sumber yang lain dikatakan pula bahwa bencana alam mempengaruhi inflasi, maka saya akan mencoba mengulas satu persatu statement tersebut.
a. Bencana Alam Mempengaruhi Inflasi
Efek dari Kerugian materi yang timbul setelah bencana alam adalah meningkatnya jumlah permintaan akan barang untuk memperbaiki kerusakan kerusakan yang terjadi. Karena jumlah permintaan yang meningkat dan jumlah barang yang tetap, maka terjadilah inflasi (Demand Pull Infation), harga Barang akan menjadi naik karena jumlah permintaan yang besar, nilai mata uang pun menjadi turun.
b. Bencana Alam Tidak Mempengaruhi Inflasi
Menurut banyak sumber yang saya temukan dari Internet, disebutkan bahwa bencana alam tidak membawa pengaruh terhadap perubahan tingkat Inflasi. Badan Pusat Statistik Rusman Heriawan mengatakan sejumlah bencana alam yang terjadi di Indonesia tak memberikan tekanan terhadap inflasi. "Tak terlihat dampak nasional bahkan juga dampak di daerah," ujar Rusman saat mengumumkan indeks harga konsumen selama Oktober di Jakarta. BPS mengungkapkan, sepanjang Oktober ini tingkat inflasi terbilang rendah, sebesar 0,06 persen. Meski demikian, secara kumulatif (Januari-Oktober), inflasi nasional tercatat 5,35 persen, sedikit lebih tinggi daripada target pemerintah 5,3 persen.
Dari Ulasan diatas saya menarik kesimpulan bahwa dapat atau tidak dapatnya bencana alam mempengaruhi inflasi, besar kecilnya inflasi akibat bencana alam yang terjadi ditentukan oleh :
• Parah tidaknya kerusakan yang ditimbulkan oleh bencana alam itu sendiri
• Keadaan ekonomi Negara saat bencana alam itu terjadi
Dua faktor itulah yang dapat mempengaruhi terjadinya perubahan tingkat inflasi yang umumnya naik, setelah terjadinya bencana alam.
Minggu, 31 Oktober 2010
Overview
Financial Markets and Intermediaries
Financial Markets adalah pasar dimana seseorang yang membutuhkan uang dengan seseorang yang ingin menginvestasikan uang bertemu, sedangkan lembaga yang mempertemukan seseorang yang membutuhkan uang dengan orang yang ingin menginvestasikan uangnya disebut financial intermediaries. Salah satu financial intermediaries yang paling banyak digunakan oleh semua orang adalah Bank. Fungsi utama Bank adalah untuk menyimpan dan meminjam uang. Seseorang menyimpan uangnya di Bank karena dia mengharapkan Bunga (interest) dari tabungannya. Orang yang meminjam uang di Bank memiliki kewajiban untuk mengembalikan uang yang dia pinjam beserta dengan bunga pinjamannya juga, dari bunga pinjaman inilah Bank memberikan bunga tabungan serta mendapatkan keuntungan, tentunya bunga pinjaman jumlahnya lebih besar dari bunga tabungan. Selain Bank financial intermediaries yang lainnya adalah Pasar Modal (Stock Market), Pasar Obligasi (Bond Market), dan Reksa Dana (Mutual Fund). Kegiatan Pasar Modal adalah memperjual belikan saham baik melalu perantara (broker) maupun tidak. Pasar Modal mempunyai potensi laba yang tinggi tetapi begitu juga dengan resikonya.
Saving and Investment
Dasar dari Saving (Tabungan) didapatkan melalui Income (Pendapatan) dikurangi dengan Consumption (Konsumsi). Dalam Hal ini Saving and Investment merupakan tabungan dan investasi dalam akun pendapatan nasional. Sesuai dengan rumus Pendapatan Nasional (GDP) yaitu Y= G + I + C (X-M) maka rumus National Saving (S) adalah Y - C - G = S atau S = (Y - T - C) + (T - G). T = Taxes (Pajak). Saving and Investment dibagi menjadi dua, yaitu Private Saving dan Public Saving. Private Saving adalah tabungan pribadi yang didapatkan setelah Pendapatan dikurangi dengan konsumsi dan pajak, rumusnya adalah (Y - T - C). Public Saving adalah simpanan yang didapatkan setelah mengurangi pajak dengan pengeluaran pemerintah, rumusnya adalah (T - G). Bagi perekonomian secara keseluruhan, tabungan harus sama dengan investasi.
The Market For Loanable Funds
The Market For Loanable Funds adalah pasar yang membawa penabung dan peminjam bersama, juga menyatukan uang yang tersedia di bank dan lembaga pemberi pinjaman yang tersedia untuk perusahaan dan rumah tangga untuk membiayai pengeluaran, baik investasi atau konsumsi. Orang yang menyimpan uang disebut dengan Suppliers. Orang yang meminjam uang disebut dengan Demander. Suppliers menyediakan dana pinjaman, misalnya membeli obligasi lalu mentransfer uang mereka untuk lembaga yang mengeluarkan obligasi, yang dapat berupa sebuah perusahaan atau lembaga pemerintah. Sebagai imbalannya ketika suatu lembaga menjual obligasi itu menuntut dana pinjaman dari peminjam permintaan dana pinjaman (Demander). Harga dana pinjaman adalah “Suku Bunga,”yaitu jumlah uang yang dibayarkan untuk penggunaan dolar selama satu tahun. Dana yang tersedia untuk pinjaman, yang terdiri dari tabungan rumah tangga dan kadang-kadang pinjaman bank. Dana pinjaman sering digunakan untuk investasi barang modal baru, oleh karena itu, permintaan dan penawaran modal biasanya dibahas dalam hal permintaan dan penawaran dana pinjaman.
Government Policies that Effect The Economy’s Saving and Investment
Kebijakan pemerintah yang memperngaruhi Saving and Investment :
· Pajak dan Tabungan
· Pajak dan Investasi
· Anggaran Pemerintah (Defisit / Surplus)
Suku bunga sangat berpengaruh terhadap minat menabung masyarakat, apabila tingkat suku bunga tinggi, maka masyarakat akan cenderung menyimpang uangnya di Bank, sehingga aliran kas di masyarakat menjadi menurun. Begitu juga dengan pinjaman, masyarakat menjadi enggan meminjam ke Bank karena tingkat bunga pengembalian pinjaman yang tinggi, hal ini kurang begitu baik dikarenakan apabila masyarakat enggan meminjam, maka kegiatan produksi akan semakin menurun yang bisa mengakibatkan penurunan pendapatan nasional. Tingkat suku bunga sangat tepat dinaikan apabila sedang terjadi kenaikan inflasi.
Sebaliknya apabila Suku bunga diturunkan, maka masyarakat akan cenderung meminjam uang dari Bank, sehingga jumlah uang yang beredar di masyarakat menjadi bertambah, tentunya kegiatan produksipun meningkat, sehingga pendapatan nasional pun menjadi bertambah.
Kamis, 28 Oktober 2010
Damn, I want it so much
Guys maybe this is sounds crazy but I wanna this fu*kin things so much. After I graduated from High school, this thing wasn't made sense so much with me.And then time past by I've seen so many people living around me used it. I started to feel "why everybody have it and I don't" it can connecting people more easily than using text message or else. MOBILE EVERYWHERE, I think it is the feature that being a source why this thing so worth and valuable.
Analisis Jurnal "Pengaruh Tingkat Suku Bunga dan Tingkat Likuiditas Perusahaan terhadap Risiko Investasi Saham"
OLEH :
Anugerah Adhi Prasetyo
Mailda Alfriska
Investasi dan pasar modal
o Judul : Pengaruh tingkat suku bunga dan tingkat likuiditas perusahaan terhadap risiko investasi saham yang terdaftar pada Jakarta Islamic Index
o Pengarang : Makaryanawati (Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang)
Misbachul Ulum (alumni Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang)
Tahun
Maret 2009
Latar Belakang
Untuk memahami pengaruh suku bunga yang merupakan faktor-faktor makro dan tingkat likuiditas perusahaan yang mewakili faktor mikro terhadap risiko investasi saham yang tercatat di Jakarta Islamic Index
Masalah dan Tujuan
Bagaiamana pengaruh tingkat suku bunga dan likuiditas perusahaan terhadap risiko investasi saham yang terdaftar pada Jakarta Islamic Index
Mengetahui pengaruh tingkat suku bunga dan likuiditas perusahaan terhadap risiko investasi saham yang terdaftar pada Jakarta Islamic Index untuk mengurangi risiko investasi saham.
Metodologi
Data
Tingkat Suku Bunga, Likuiditas Perusahaan, Risiko Investasi
Variabel
Tingkat Suku Bunga (Variabel bebas / X)
Risiko Investasi (Variabel Terikat /Y)
Tahapan Penelitian
Pengumpulan Data melalui data sekunder yaitu data yang tidak diperoleh atau di kumpulkan secara langsung.
Analisis Data Regresi Berganda, yaitu analisis besarnya hubungan dan pengaruh variable independen yang jumlahnya lebih dari 2
Uji Hipotesis, yaitu menguji pengaruh antara varabel bebas tingkat suku bunga (X) dan tingkat likuiditas perusahaan (X) terhadap variabel terikat risiko investasi (Y)
Model Penelitian
Hasil dan Analisis
Data yang digunakan dalam analisis memiliki distribusi yang normal dan memenuhi persyaratan uji asumsi klasik.
Variabel –variabel independen yang terdiri dari tingkat suku bunga dan tingkat likuiditas perusahaan hanya dapat menjelaskan sebesar 13,8 % dimana tingkat likuiditas tidak berpengaruh signifikan terhadap risiko investasi.
Kesimpulan
Tingkat suku bunga yang ditunjukkan oleh tingkat suku bunga SBI sebagai tingkat kenaikan bunga bebas risiko terbukti berpengaruh signifikan terhadap risiko investasi. Risiko tidak sistematis merupakan risiko yang dapat didiversifikasi dan dipengaruhi oleh factor mikro. Factor mikro dalam penelitian ini adalah tingkat likuiditas perusahaan yang diukur dengan rasio lancar.
Rabu, 27 Oktober 2010
Circular Flow
Kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh manusia, pada dasarnya merupakan proses pertukaran para pelaku ekonomi. Kegiatan ekonomi yang begitu banyak dan kompleks dapat dipahami dengan lebih mudah melalui suatu model ekonomi. Keterkaitan antara pelaku-pelaku ekonomi tersebut dapat digambarkan dalam siklus aliran arus uang dan arus barang atau circular flow diagram yang secara sederhana dapat dijelaskan beberapa arus transaksi yang terjadi antara produsen dengan konsumen sebagaimana berikut ini:
a. arus penyediaan faktor produksi yang terdiri dari unsur tanah, tenaga kerja, kapital, kewirausahaan;
b. arus balas jasa faktor produksi atau pendapatan yang terdiri atas unsur sewa
tanah, upah dan gaji, bunga, deviden, serta keuntungan;
c. arus pengeluaran untuk kebutuhan konsumsinya, dan
d. arus barang dan jasa yang menjadi konsumsi.
Aliran faktor produksi dari rumah tangga ke produsen akan menyebabkan terjadinya arus balik dari produsen ke rumah tangga dalam bentuk pendapatan atau yang disebut sebagai balas jasa faktor produksi.
Pendapatan faktor yang dibayarkan oleh produsen tersebut merupakan sumber penerimaan bagi rumah tangga yang pada gilirannya akan digunakan untuk membiayai kebutuhan konsumsinya. Konsumsi (akhir) tersebut meliputi penggunaan berbagai produk barang dan jasa yang dihasilkan oleh produsen (perusahaan); Atau dengan kata lain pendapatan di satu sisi akan sama dengan penggunaan pendapatan di sisi yang lain. Dengan demikian maka aliran produk barang dan jasa yang dihasilkan oleh produsen akan sama dengan aliran uang yang dibayarkan oleh rumah tangga untuk membeli barang dan jasa tersebut.
Dari diagram di atas dapat ditentukan adanya beberapa kegiatan ekonomi :
1.Kegiatan Ekonomi Dua Sektor
Kegiatan ekonomi dua sektor hanya melibatkan dua pelaku ekonomi, yaitu rumah tangga dan perusahaan.
Sektor rumah tangga membeli barang dan jasa dari sektor perusahaan di pasar barang (product market) dan sebagai balas jasanya, sektor pengusaha menerima uang. Dalam arus ini, sektor rumah tangga berperan sebagai pembeli barang dan jasa, sedangkan sektor perusahaan berperan sebagai penjual. Perusahaan menetapkan harga produk berdasarkan biaya tenaga kerja dan keahlian. Harga di pasar barang ditentukan oleh permintaan konsumen rumah tangga dan penawaran per. usahaanTransaksi barang dan jasa terjadi di pasar barang (product market).
a.Corak Kegiatan Ekonomi Subsistem
Dalam corak kegiatan ekonomi subsistem penerima-penerima pendapatan, dalam hal ini rumah tangga, tidak menabung, dan para pengusaha tidak menanam modal. Dalam masyarakat yang seperti ini aliran pendapatannya adalah seperti yang tampak pada Gambar di atas.
Dalam kegiatan ekonomi seperti ini sekiranya sektor produksi menggunakan seluruh faktor produksi yang ada dalam perekonomian, pengeluaran sektor rumah tangga akan sama dengan nilai barang dan jasa yang diproduksi dalam perekonomian. Ini adalah gambaran yang sangat sederhana yang terjadi pada suatu perekonomian, di mana kegiatan perdagangan pada umumnya masih menggunakan cara barter.
Hubungan antara penyediaan produk (perusahaan) di satu sisi serta penggunaan (permintaan) di sisi lainnya ini disebut general equilibrium yaitu adanya titik keseimbangan umum antara Supply dan Demand
b.Corak Perekonomian Modern
Dalam perekonomian yang lebih maju, penerima-penerima pendapatan akan menyisihkan sebagian pendapatan mereka untuk ditabung. Tabungan ini akan dipinjamkan kepada pengusaha yang akan menggunakannya untuk investasi, yaitu melakukan pembelian barang-barang modal.
2.Kegiatan Ekonomi Tiga Sektor
Dalam kegiatan ekonomi tiga sektor, pelaku-pelaku ekonomi yang terlibat selain dari rumah tangga dan perusahaan, diperlihatkan juga peranan dan pengaruh pemerintah atas kegiatan perekonomian.
Pemerintah menggunakan pendapatan dari pajak untuk membeli barang dan jasa dari pasar faktor produksi, pasar barang, dan perusahaan. Barang dan jasa tersebut digunakan untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Beberapa ahli ekonomi berpendapat bahwa perekonomian pasar (market economy), yaitu perekonomian yang berdasarkan pada mekanisme pasar yang dapat bekerja dengan efisien. Adapun beberapa ahli ekonomi lainnya berpendapat bahwa perekonomian pasar akan mencapai hasil yang memuaskan jika pemerintah ikut campur tangan dalam kehidupan perekonomian. Salah satu bentuk campur tangan pemerintah adalah dengan mengenakan pajak kepada masyarakat yang kemudian digunakan untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Di samping sebagai pelaku ekonomi, pemerintah juga berfungsi sebagai pengatur dan pengawas kegiatan ekonomi rumah tangga perusahaan swasta dan koperasi. Tujuannya adalah agar pelaku ekonomi tersebut melakukan kegiatan ekonominya sesuai dengan peraturan yang ada dan tidak merugikan masyarakat.
3.Kegiatan Ekonomi Empat Sektor
Kegiatan ekonomi empat sektor sering disebut perekonomian terbuka karena kegiatan ini tidak hanyamelibatkan pelaku-pelaku ekonomi di dalam negeri, tetapi juga masyarakat ekonomi di luar negeri.
a. arus penyediaan faktor produksi yang terdiri dari unsur tanah, tenaga kerja, kapital, kewirausahaan;
b. arus balas jasa faktor produksi atau pendapatan yang terdiri atas unsur sewa
tanah, upah dan gaji, bunga, deviden, serta keuntungan;
c. arus pengeluaran untuk kebutuhan konsumsinya, dan
d. arus barang dan jasa yang menjadi konsumsi.
Aliran faktor produksi dari rumah tangga ke produsen akan menyebabkan terjadinya arus balik dari produsen ke rumah tangga dalam bentuk pendapatan atau yang disebut sebagai balas jasa faktor produksi.
Pendapatan faktor yang dibayarkan oleh produsen tersebut merupakan sumber penerimaan bagi rumah tangga yang pada gilirannya akan digunakan untuk membiayai kebutuhan konsumsinya. Konsumsi (akhir) tersebut meliputi penggunaan berbagai produk barang dan jasa yang dihasilkan oleh produsen (perusahaan); Atau dengan kata lain pendapatan di satu sisi akan sama dengan penggunaan pendapatan di sisi yang lain. Dengan demikian maka aliran produk barang dan jasa yang dihasilkan oleh produsen akan sama dengan aliran uang yang dibayarkan oleh rumah tangga untuk membeli barang dan jasa tersebut.
Dari diagram di atas dapat ditentukan adanya beberapa kegiatan ekonomi :
1.Kegiatan Ekonomi Dua Sektor
Kegiatan ekonomi dua sektor hanya melibatkan dua pelaku ekonomi, yaitu rumah tangga dan perusahaan.
Sektor rumah tangga membeli barang dan jasa dari sektor perusahaan di pasar barang (product market) dan sebagai balas jasanya, sektor pengusaha menerima uang. Dalam arus ini, sektor rumah tangga berperan sebagai pembeli barang dan jasa, sedangkan sektor perusahaan berperan sebagai penjual. Perusahaan menetapkan harga produk berdasarkan biaya tenaga kerja dan keahlian. Harga di pasar barang ditentukan oleh permintaan konsumen rumah tangga dan penawaran per. usahaanTransaksi barang dan jasa terjadi di pasar barang (product market).
a.Corak Kegiatan Ekonomi Subsistem
Dalam corak kegiatan ekonomi subsistem penerima-penerima pendapatan, dalam hal ini rumah tangga, tidak menabung, dan para pengusaha tidak menanam modal. Dalam masyarakat yang seperti ini aliran pendapatannya adalah seperti yang tampak pada Gambar di atas.
Dalam kegiatan ekonomi seperti ini sekiranya sektor produksi menggunakan seluruh faktor produksi yang ada dalam perekonomian, pengeluaran sektor rumah tangga akan sama dengan nilai barang dan jasa yang diproduksi dalam perekonomian. Ini adalah gambaran yang sangat sederhana yang terjadi pada suatu perekonomian, di mana kegiatan perdagangan pada umumnya masih menggunakan cara barter.
Hubungan antara penyediaan produk (perusahaan) di satu sisi serta penggunaan (permintaan) di sisi lainnya ini disebut general equilibrium yaitu adanya titik keseimbangan umum antara Supply dan Demand
b.Corak Perekonomian Modern
Dalam perekonomian yang lebih maju, penerima-penerima pendapatan akan menyisihkan sebagian pendapatan mereka untuk ditabung. Tabungan ini akan dipinjamkan kepada pengusaha yang akan menggunakannya untuk investasi, yaitu melakukan pembelian barang-barang modal.
2.Kegiatan Ekonomi Tiga Sektor
Dalam kegiatan ekonomi tiga sektor, pelaku-pelaku ekonomi yang terlibat selain dari rumah tangga dan perusahaan, diperlihatkan juga peranan dan pengaruh pemerintah atas kegiatan perekonomian.
Pemerintah menggunakan pendapatan dari pajak untuk membeli barang dan jasa dari pasar faktor produksi, pasar barang, dan perusahaan. Barang dan jasa tersebut digunakan untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Beberapa ahli ekonomi berpendapat bahwa perekonomian pasar (market economy), yaitu perekonomian yang berdasarkan pada mekanisme pasar yang dapat bekerja dengan efisien. Adapun beberapa ahli ekonomi lainnya berpendapat bahwa perekonomian pasar akan mencapai hasil yang memuaskan jika pemerintah ikut campur tangan dalam kehidupan perekonomian. Salah satu bentuk campur tangan pemerintah adalah dengan mengenakan pajak kepada masyarakat yang kemudian digunakan untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Di samping sebagai pelaku ekonomi, pemerintah juga berfungsi sebagai pengatur dan pengawas kegiatan ekonomi rumah tangga perusahaan swasta dan koperasi. Tujuannya adalah agar pelaku ekonomi tersebut melakukan kegiatan ekonominya sesuai dengan peraturan yang ada dan tidak merugikan masyarakat.
3.Kegiatan Ekonomi Empat Sektor
Kegiatan ekonomi empat sektor sering disebut perekonomian terbuka karena kegiatan ini tidak hanyamelibatkan pelaku-pelaku ekonomi di dalam negeri, tetapi juga masyarakat ekonomi di luar negeri.
· Rumah tangga memberikan tenaga dan pikiran ke pasar tenaga kerja
· Rumah tangga berinvestasi ke pasar uang & lembaga keuangan.
· Pasar tenaga kerja memberikan bahan baku, modal dan lain lain ke perusahaan
· Perusahaan memberikan pajak kepada pemerintah
· Pemerintah memberikan tunjangan, subsidi, gaji pegawai negeri kepada rumah tangga
· Pasar barang menerima uang dari pemerintah rumah tangga dan pasar luar negeri
· Perusahaan menghasilkan barang dan jasa ke pasar barang
· Rumah tangga memberikan simpanan ke pasar uang
o Pasar tenaga kerja memberikan gaji, upah kepada rumah tangga
o Perusahaan meberikan gaji, upah kepada pasar tenaga kerja
o Pemerintah memberikan subsidi kepada perusahan
o Rumah tangga memberikan pajak penghasilan kepada pemerintah
o Pasar barang memberikan barang kepada pemerintah rumah tangga dan pasar luar negeri
o Perusahaan menerima uang dari pasar barang
Analisis preferensi konsumen terhadap multiatribut produk hunian : Studi kasus pada calon konsumen Perumahan Telaga Golf-Sawangan
Dunia properti beberapa tahun terakhir kembali bergairah setelah masa-masa keterpurukannya. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, sudah banyak bermunculan produk-produk perumahan di sekitar Jakarta dengan tipe dan fasilitas yang semakin lengkap.
Perumahan, sebagaimana produk lainnya dapat dilihat sebagai kumpulan dari atribut-atribut atau manfaat yang terkandung dari produk itu sendiri. Sesuai dengan anatomi produk menurut Kotler (1997) produk inti rumah adalah merupakan manfaat utama sebuah rumah yaitu sebagai tempat untuk berlindung dari panas dan hujan. Namun saat ini rumah tidak hanya berfungsi sebagai tempat berlindung dan panas dan hujan, tapi
juga dapat menjadi tempat untuk mencari ketenangan dan kebahagiaan bagi keluarga.
Perkembangan atribut sebuah perumahan berlangsung begitu cepat. Saat ini, banyak pengembang mendirikan lingkungan perumahan yang telah dilengkapi dengan sarana kesehatan, sarana pendidikan, sarana olah raga hingga ke sarana hiburan. Konsumen seakan dimanjakan dengan kelengkapan berbagai fasilitas dan lingkungan yang aman, tenang dan harmonis. Sehubungan dengan hal tersebut, pemasar hares mengetahui bagaimana preferensi konsumen di pasar terhadap atribut-atribut produk hunian yang ada saat ini, agar produk yang dijual cepat diserap pasar.
Pertanyaan-pertanyaan penelitian yang diajukan dalam penelitian ini adalah : atribut manakah yang dianggap paling panting oleh konsumen; apakah terdapat perbedaan preferensi konsumen terhadap produk hunian yang berada di luar DKI Jakarta dan di dalam wilayah DK1 Jakarta; apakah terdapat perbedaan preferensi terhadap atribut perumahan diantara konsumen dengan berbagai tingkat penghasilan; apakah responden dapat dikelompokkan ke dalam beberapa segmen yang dapat dibedakan secara signifikan berdasarkan kemiripan preferensi terhadap multi atribut produk hunian?
Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan penelitian di atas, penulis telah melakukan penelitian tentang preferensi konsumen terhadap produk perumahan dengan menggunakan teknik analisis konjoin, denganmenggunakan software SPSS versi 10.5, yang menjalankan fungsi model analisis konjoin tradisional (decomposisional conjoin). Dalam penelitian ini penulis menggunakan beberapa atribut produk perumahan
seperti : harga, lokasi, akses jalan, aspek legalitas, fasilitas dan cars bayar, yang masing-masing memiliki tingkatan tertentu. Dari hasil analisis konjoin ini diperoleh dua informasi panting yaitu : tingkat kepentingan relatif atribut dan nilai utilitas (pan worth) dari setiap tingkatan atribut.
Dari hasil penelitian diketahui bahwa atribut harga dan lokasi merupakan dua atribut yang memiliki tingkat kepentingan relatif paling besar di mata responden. Namun berbeda dengan dugaan penulis, responden dalam penelitian ini temyata lebih menyukai hunian yang berada di luar wilayah DKI Jakarta dibanding dengan perumahan yang berada di dalam wilayah DKI Jakarta. Sekalipun demikian, tetap responden
menghendaki perumahan yang dekat dengan akses jalan tol dibandingkan dengan perumahan yang berada jauh dari akses jalan tol. Sementara tingkat penghasilan memang secara signifikan mempengaruhi perbedaan preferensi konsumen terhadap atribut harga.
Dari penelitian ini jugs diperoleh tiga segmen yang dibedakan berdasar tingkat kepentingan atribut harga.
Segmen pertama terdiri dari responden yang bersikap moderat terhadap harga, segmen kedua merupakan
kelompok responden yang bersikap sensitive terhadap harga, sementara segmen ketiga merupakan kumpulan responden yang bersikap tidak responsive terhadap perubahan harga.
Perumahan, sebagaimana produk lainnya dapat dilihat sebagai kumpulan dari atribut-atribut atau manfaat yang terkandung dari produk itu sendiri. Sesuai dengan anatomi produk menurut Kotler (1997) produk inti rumah adalah merupakan manfaat utama sebuah rumah yaitu sebagai tempat untuk berlindung dari panas dan hujan. Namun saat ini rumah tidak hanya berfungsi sebagai tempat berlindung dan panas dan hujan, tapi
juga dapat menjadi tempat untuk mencari ketenangan dan kebahagiaan bagi keluarga.
Perkembangan atribut sebuah perumahan berlangsung begitu cepat. Saat ini, banyak pengembang mendirikan lingkungan perumahan yang telah dilengkapi dengan sarana kesehatan, sarana pendidikan, sarana olah raga hingga ke sarana hiburan. Konsumen seakan dimanjakan dengan kelengkapan berbagai fasilitas dan lingkungan yang aman, tenang dan harmonis. Sehubungan dengan hal tersebut, pemasar hares mengetahui bagaimana preferensi konsumen di pasar terhadap atribut-atribut produk hunian yang ada saat ini, agar produk yang dijual cepat diserap pasar.
Pertanyaan-pertanyaan penelitian yang diajukan dalam penelitian ini adalah : atribut manakah yang dianggap paling panting oleh konsumen; apakah terdapat perbedaan preferensi konsumen terhadap produk hunian yang berada di luar DKI Jakarta dan di dalam wilayah DK1 Jakarta; apakah terdapat perbedaan preferensi terhadap atribut perumahan diantara konsumen dengan berbagai tingkat penghasilan; apakah responden dapat dikelompokkan ke dalam beberapa segmen yang dapat dibedakan secara signifikan berdasarkan kemiripan preferensi terhadap multi atribut produk hunian?
Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan penelitian di atas, penulis telah melakukan penelitian tentang preferensi konsumen terhadap produk perumahan dengan menggunakan teknik analisis konjoin, denganmenggunakan software SPSS versi 10.5, yang menjalankan fungsi model analisis konjoin tradisional (decomposisional conjoin). Dalam penelitian ini penulis menggunakan beberapa atribut produk perumahan
seperti : harga, lokasi, akses jalan, aspek legalitas, fasilitas dan cars bayar, yang masing-masing memiliki tingkatan tertentu. Dari hasil analisis konjoin ini diperoleh dua informasi panting yaitu : tingkat kepentingan relatif atribut dan nilai utilitas (pan worth) dari setiap tingkatan atribut.
Dari hasil penelitian diketahui bahwa atribut harga dan lokasi merupakan dua atribut yang memiliki tingkat kepentingan relatif paling besar di mata responden. Namun berbeda dengan dugaan penulis, responden dalam penelitian ini temyata lebih menyukai hunian yang berada di luar wilayah DKI Jakarta dibanding dengan perumahan yang berada di dalam wilayah DKI Jakarta. Sekalipun demikian, tetap responden
menghendaki perumahan yang dekat dengan akses jalan tol dibandingkan dengan perumahan yang berada jauh dari akses jalan tol. Sementara tingkat penghasilan memang secara signifikan mempengaruhi perbedaan preferensi konsumen terhadap atribut harga.
Dari penelitian ini jugs diperoleh tiga segmen yang dibedakan berdasar tingkat kepentingan atribut harga.
Segmen pertama terdiri dari responden yang bersikap moderat terhadap harga, segmen kedua merupakan
kelompok responden yang bersikap sensitive terhadap harga, sementara segmen ketiga merupakan kumpulan responden yang bersikap tidak responsive terhadap perubahan harga.
Langganan:
Postingan (Atom)

